Minggu, 05 Juli 2015

TEOLOGI KETUHANAN MENURUT KITAB UL. 6



BAB I

PENDAHULUAN
            Teologi Allah merupakan teologi yang berdasarkan kebenaran tentang Allah. Untuk mengenal kebenaran akan Tuhan terlebih dahulu kita harus menaruh kepercayaaan kita kepada-Nya. Mengenal Allah akan menuntut kita tinggal diam di dalam Dia. Mengenal akan Allah maksudnya adalah percaya bahwa Allah itu benar-benar ada yang melingkupi segala sesuatu dan yang berkuasa diatas segala sesuatu.[1] Dalam pelayanan Musa dia sering memakai gaya khotbah menasihatkan bangsa Israel  dan mendorong bangsa Israel agar bangsa Israel menaati Tuhan sepenuhnya. Bahwa perintah yang mereka terima itu adalah perintah dari Allah yang mereka sembah yaitu Allah yang esa. [2] Allah sudah bertindak dalam sejarah bangsa Israel untuk menerima pemerintahan Allah yang penuh kebajikan. Sejarah itu bukti dari pilihan atas bangsa Israel.[3] Pengenalan akan Allah selalu ada dalam sejarah, Allah suka menunjukkan kasih setia-Nya, keadilan-Nya dan kebenaran-nya diatas bumi ini. Pengalaman manusia untuk mengenl Allah adalah terbatas, sehingga segala usaha manusia untuk membuktikan bahwa Tuhan itu adalah esa hasilnya selalu tidak memuaskan.[4]
Sejarah keesaan Allah
            Allah dalam teologi Moltmann pada tahun 1960-an pada buku yang telah ditulisnya yang berjudul teolog pengharapan tidak tersurat trinitas. Alasan utama untuk menyatakan ini adalah bahwa doktrin tentang Allah didiskusikan terutama dalam konteks permasalahan modern tentang penyataan ilahi, dimana keperhatian Moltmann adalah untuk membangun suatu konsep tentang penyataan sebagai janji, dalam usahanya untuk menentang kecenderungan umum yang melihat penyataan sebagai epifani dari kebenaran abadi.[5] Epifani artinya penyataan diri Yesus Kristus.[6] Allah tidak membuat diri-Nya dikenal  dalam suatu keadaan “ada” yang tidak dibatasi waktu, tanpa sejarah atau masa depan. Allah alkitabiah  membuat diri-Nya dikenal di dalam janji-janji-Nya akan masa depan yang berwaktu, dimana sejarah memperoleh arah dan makna. Apa yang telah dijanjikan Allah, tidak hanya penyingkapan dari apa yang sudah benar, tetapi lebih dari pada itu, sesuatu yang baru, kenyaataan yang belum ada. Moltmann mengkritik doktrin Bart tentang trinitas, yang mengatakan bahwa Allah menyatakan diri-Nya dengan mengambil kemanusiaan dalam lingkaran pengenalan diri-Nya yang abadi, ini adalah suatu versi  epifani dari yang “ada” yang abadi. Moltmann mengatakan kebenaran trinitas Allah tidak diberikan sebagai penyingkapan dari kebenaran yang mengatasi waktu, itu adalah kebenaran dari Yesus Kristus yang tetap menantikan masa depan-Nya, dari Roh yang adalah kekuatan kebangkitan dari kematian, dan dari Allah yang tetap menanti untuk menjadi semua didalam manusia.[7]
Ada beberapa pandangan teolog tentang keesaan Allah
            Masa sebelum reformasi, orang Yahudi pada zaman Tuhan Yesus sangat menekankan kesatuan Allah dan penekanan ini terus dipertahankan dalam Gereja Kristen. Akibatnya adalah bahwa sebagian orang berpendapat yang berbeda tentang Allah Tritunggal. Tokoh yang pertamakali memakai istilah Tritunggal  adalah Tertulian.
1.      Tertullian.  Doktrinnya masih tidak begitu diterima karena dia meletakkan posisi Allah Anak dibawah Allah Bapa.
2.      Ketika Tertulian membuka pikiran tentang Tritunggal muncullah doktrin Origen yang mengatakan secara eksplisit (terus terang, tegas) Allah Putra berada dibawah posisi dibawah Allah Bapa dalam esensinya dan bahkan Roh Kudus berada dibawah Allah Putra. Origen mengatakan bahwa Allah Putra makhluk ciptaan pertama dari Allah Bapa, dan Roh Kudus adalah makhluk pertama dari Allah Putra. Ketiga pribadi dari Allah Tritunggal ini menjadi berbeda tingkatannya.
3.      Orang-orang Arian menyangkal keilahian dari Yesus dan Roh Kudus sebagai Allah.
Sesudah masa Reformasi tidak didapati perkembangan lebih jauh tentang doktrin tentang Tritunggal, tetapi hanya berulang-ulang untuk dipelajari, tetapi masalah ini tidak pernah selesai. Kaum Armenian ingin tetap mempertahankan kesatuan Allah. Tetapi mereka menganggap bahwa Allah Bapa memiliki kekuasaan tertentu atas kedua pribadi yang lain, dalam tingkatan, kemuliaan dan kuasa.[8] Sejak awal mulanya, doktrin ini selalu menjadi batu sandungan bagi orang yang memfungsikan akalnya dalam beragama. Doktrin kristiani ini menyatakan bahwa Tuhan terdiri dari tiga oknum (pribadi) yang sezat, sehakikat dan senilai yaitu: Allah Bapa, Allah Anak (Yesus Kristus) dan Allah Roh Kudus. Soedarmo mempertegas rumusanya dalam buku Intisari Iman Kristen: “Allah yang satu dan esa itu memperkenalkan diri-Nya sebagai Allah di atas kita (Allah Bapak), sebagai Allah di tengah-tengah kita (yakni Yesus Kristus) dan sebagai Allah di dalam kita (yakni Roh Kudus). Ketiganya tidak dapat dipisah-pisahkan satu sama lain, namun dibeda-bedakan juga. Itulah yang dimaksud dengan istilah Tritunggal”. Soedarmo berterus terang dalam bukunya Ikhtisar Dogmatika: “Kita tentu insaf bahwa Trinitas memang tidak dapat dimengerti”.
Ajaran Keesaan Allah[9]
            Dalam Kitab Ulangan 6:4 mencatat bahwa Allah kita adalah esa, disini kita melihat apa yang dimaksudkan “Allah kita itu adalah esa”. Ini  adalah kebenaran yang paling sukar diterima oleh orang yang tidak mengenal Tuhan atau yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Hanya ada satu Allah Ulangan 6: 4 “Saudara-saudara, ingatlah! Hanya TUHAN, dan TUHAN saja Allah kita!”, Allah sendiri mengatakan, “Kecuali Aku tidak ada Allah” (Yes. 45:5). Paulus mengatakan juga hal yang sama “Tidak ada Allah yang lain selain Allah yang esa” (I Kor. 8:4) hanya ada satu Allah yang benar, bukan Allah agama ini atau agama itu. Dibawah ini ada penjelasan mengenai Allah itu adalah esa.
1.      Satu Allah dengan tiga pribadi
Namun Allah yang esa ini “terdiri dari: tiga pribadi yang berbeda: Bapa, Anak dan Roh yang sering disebut dengan (Tritunggal). Istilah Tritunggal tidak terdapat dalam Alkitab, namun ajaran mengenai “ketigaan” Allah muncul diseluruh Alkitab. Bapa, Anak dan Roh memang beda pribadi, tetapi mereka adalah satu yaitu Tuhan.
2.      Tritunggal dalam penciptaan
Pada Kejadian 1:1”Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”. Allah dalam bahasa Ibrani “Elohim”,  suatu kata jamak. Bahkan sejak kalimat pertama dari Alkitab, Allah memberi tahu kita bahwa Dia itu jamak sekaligus tunggal. Dia menunjukkan hal ini dalam penciptaan manusia, karena menurut Kejadian 1:26 Allah berfirman “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita......” pada ayat 27 “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya”. Teks ini berpindah secara bebas dari bentuk jamak kebentuk tunggal. Mengapa bisa terjadi, karena Allah itu adalah esa “terdiri dari” tiga pribadi.
3.      Tritunggal dalam seluruh Alkitab
Tritunggal ini bekerja dalam karya keselamatan (I Pet. 1:1-2). Dalam II Korintus 13:13 Paulus memberi tahu kita bahwa salah satu dari Pribadi Tritunggal itu memberi kita kasih karunia, pribadi yang lain mengasihi kita, dan yang lain menyatukan kita. Tentu saja pelayan-pelayan ini tidak mengucilkan satu dengan yang lain. Semua Pribadi Tritunggal bekerjasama untuk menguduskan kita. Menurut Alkitab  penciptaan itu berasal dari Allah (Kej. 1:1), dari Yesus (Kol. 1:16) dan dari Roh Kudus (Kej. 1:2; Mzm. 104: 30). Tritunggal bekerja dengan aktif dalam doa (Ef. 2:18) dan dalam pemberkatan kaum beriman (II Tes. 2:13). Tringtunggal ini merupakan suatu doktrin yang sulit untuk diterima dan dimengerti. Tritunggal ini kita tidak bisa menerima dengan akal tetapi hanya bisa diterima dengan iman.



BAB II

TEOLOGI KETUHANAN MENURUT ULANGAN 6
Keesaan Allah Dalam Perjanjian Lama
Keesaan Allah daalm Perejanjian Lama dinyatakan oleh syema (Ul. 6:4-5) pertama-tama mengakui bahwa Allah mereka (Israel) adalah Tuhan (Yahweh). Dengan nama ini Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai sekutu Israel yang setia dan yang memenuhi segala janji-Nya (Kel. 3:15-17) namun juga Tuhan disebut dalam Yesaya 44:6, yaitu bahwa Dia yang terdahulu dan yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Nya. Tuhan selanjutnya diakui sebagai yang esa. Kata esa dalam bahasa Ibrani “ekhad” menunjuk kepada kedudukan yang khas, yang berbeda dari allah-allah yang lain  yang dimiliki oleh bangsa-bangsa disekitar bangsa Israel. Kata esa juga bisa dikatan bahwa Tuhan itu satu dalam Firman dan karya-Nya (Ul. 4: 39). Walaupun banyak dewa yang disembah seperti: Baal-Berit (Hak. 8:33), Baal-Gad (Yos. 11:15), Baal-Hazor (II Sam. 13:23), Baal-Peor (Bil. 25:3,5) dan sebagainya. Akan tetapi, Allah adalah Tuhan yang esa di mana saja; tidak ada Tuhan-Sinai, Tuhan-Silo atau Tuhan-Yerusalem. Oleh karena Tuhan itu esa maka dituntut pula suatu penyerahan yang bulat (esa) dari Israel yang terdapat dalam Ulangan 6:5.[10]
Keesaan Allah dalam Perjanjian Baru
            Keesaan Allah dalam Perjanjian Baru dinyatakan sendiri oleh Tuhan Yesus Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. (Yoh. 17:3). Sama seperti dalam Perjanjian Lama, uangkapan satu-satunya Allah yang benar   dalam bahasa Yunani (ton monon elethinon theon) disini juga menunju kepada keesaan Allah dalam Firman dan karya-Nya. Hal ini dibuktikan dengan dihubungkannya  keesaan Allah dengan pengutusan Yesus Kristus sebagai Firman yang telah menjadi manusia (Yoh. 1:14). Kata satu-satu-nya monon disini bukan angka “satu” secara matematis, melainkan “kesatuan”- kesatuan hubungan antara Allah dengan umat-Nya didalam Tuhan Yesus Kristus, seperti yang dikatakan Paulus namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup (I Kor. 8:6; Ef. 3:4-6; Yak. 2:9) pernyataan ini adalah sungguh jelas. Disini letak perbedaan yang mutlak antara Tuhan kita dengan allah-allah lain, yaitu bahwa Tuhan kita dalam teologi disebut Singularitas Dei. Ini pengakuan kepada keesaan Tuhan dalam Yesus juga menuntut penyerahan yang bulat (esa) dari umat-Nya (Mat. 22:37).[11]
            Ada lagi beberapa bukti dalam Alkitab tentang Allah yang esa, yaitu:
1.      Bapa diakui sebagai Allah (Yoh. 6:27; I Pet. 1:2).
2.      Yesus Kristus diakui sebagai Allah. Dia sendiri menyatakan sifat-sifat-Nya yang hanya dimiliki Allah, seperti Mahatahu (Mat. 9:4), Mahakuasa (Mat. 28:18), Mahahadir (Mat. 28:20). Dia melakukan perkara-perkara yang hanya dilakukan oleh Allah, seperti: mengampuni dosa (Mrk. 2:1-21), membangkitkan orang mati (Yoh. 12: 9), dan menopang segala sesuatu (Kol. 1:17), Penciptaan (Yoh. 1:3) dan menghakimi (Yoh. 5:27).
3.      Roh Kudus diakui sebagai Allah. Dia disebut Allah (Kis. 5:3-4), Dia memiliki sifat-sifat yang mampu dimiliki oleh Allah, seperti Mahatahu (I Kor. 2:10), Mahahadir (I Kor 6:19).
Dalam Matius 28:19, dengan cara yang paling baik, menyatakan baik keesaan maupun ketigaan dengan menyatukan kepada ketiga Pribadi itu  dan mengesahkannya didalam satu nama tunggal.[12]
Keesaan Tuhan dalam Ulangan 6
Dari kitab Kejadian sampai kitab Ulangan menyingkapkan Allah Tritunggal yang terwujud dalam Kristus sebagai pusat dan ruang lingkup kekekalan Tuhan. Kitab Ulangan menyingkapkan Kristus sebagai berkat atau sumber kemakmuran dan segala sesuatu bagi umat pilihan Allah tritunggal.[13] Disepanjang Perjanjian Lama telah dianggap bahwa hanya satu Allah yaitu Allah Abraham, Ishak dan Yakub, dan bukan banyak Allah. Sebuah petunjuk yang lebih jelas tentang keesaan Allah terdapat dalam Syema  dikitab Ulangan, yaitu kebenaran-kebenaran kabar yang harus dihayati oleh orang Israel dan harus mereka tanamkan pada anak-anak mereka. Mereka harus merenungkan ajaran-ajaran ini “Apa yang Kuperintahkan kepadamu pada hari haruslah engkau perhatikan” (Ul. 6:6). Orang Israel harus membicarakannya dirumah atau ketika dalam perjalanan, ketika berbaring atau ketika bangun (Ul. 6:7). “Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita” (Ul. 6:4). Sekalipun kita memiliki berbagai terjemahan yang dari naskah Ibrani, semuanya menekankan keilahian Yehova yang unik dan tanpa tandingan. Yang merupakan kebenaran yang harus dipertahankan oleh bangsa Israel adalah sebuah perintah yang dilandaskan pada keunikan Allah, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu”(Ul. 6:5). Karena Allah itu esa adanya, penyerahan Israel tidak boleh terbagi. Setelah ucapan syema (Ul. 6:4-5), perintah-perintah dalam Keluaran 20 sebenarnya diulangi kembali. Dengan perhatian positif umat Allah diperintahkan, “Engkau harus takut akan Tuhan, Allahmu; kepada Dia haruslah engkau beribadah dan demi nama-Nya haruslah engkau bersumpah” (Ul. 6:13). Dengan perkataan negatif mereka diperintahkan, “Janganlah kamu mengikuti allah lain, dari antara allah bangsa-bangsa sekelilingmu” (Ul. 6:14). Jelaslah, Allah itu esa adanya, sehingga menutup kemungkinan adanya dewa bangsa-bangsa disekitar Israel yang dapat diaggap benar sehingga layak untuk dilayani dan disembah.[14]
Kepentingan Syema
            Dalam tradisi Yudaism Ulangan 6:4 menjadi suatu pengakuan iman yang wajib diucapkan tiap pagi dan malam (bdg. Ayat 7). Kata syema (dengarlah) merupakan pernyataan iman Yahudi atas keesaan Allah (Ul. 6:4).[15] Syema ini disebut dogma fundamental dalam Perjanjian Lama disebut oleh Tuhan Yesus sebagai yang paling penting dari semua hukum (Mark. 12:29-30). Pada saat Iblis mencobai Yesus di Bait Suci, Yesus mengutip Ulangan 6:16, “Jangan engaku mencobai Tuhan, Allahmu!” (Mat. 4:7). Dan ketika Iblis menawarkan segala kerajaan ini kepada Yesus apa bila Ia mau sujud menyembah dia, Tuhanpun menjawab, “engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Mat. 4:10; bgd. Ul. 6:13). Ketika Yesus memakai ayat Ulangan 6 ini,  secara tidak langsung Yesus menekankan pentingnya syema di Ulangan 6:4-9 itu dan menyatakan bahwa seseorang yang mengasihiTuhan yang esa itu dengan sepenuh hati dan yang betul-betul mengetahui perintah-Nya, dapat menggagalkan rencana-renca Iblis.  Ada dua hukum yang terbesar dalam Alkitab yaitu: 37Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. 38 Itulah perintah yang terutama dan terpenting! 39  Perintah kedua sama dengan yang pertama itu: Cintailah sesamamu seperti engkau mencintai dirimu sendiri. 40  Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." Matius 22:37-40. Hukum yang pertama dan sepuluh hukum ini merupakan pernyataan yang jelas mengenai keunikan Allah yang esa. Sedangkan bangsa-bangsa kafir mungkin menyembah allah-allah lain dengan penuh pengabdian. Israel telah menerima bukti berlimpah-berlimpah yang menyatakan bahwa “Tuhan Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia” (Ul. 435; 32:39), pernyataan ini mengacu kepada Allah trintunggal. Dalam Ulangan 6:4-5 Musa mengajarkan perintah-perintah ini kepada bangsa Israel agar mengajarkan kepada anak-anak mereka  apa yang telah diperintah oleh Tuhan kepada mereka, bahwa semua orang harus berbakti kepada Allah Israel  yaitu Allah yang esa yang mereka sembah dan yang mereka percayai.[16]
Pengakuan kepada Tuhan yang esa
Pengakuan ini yang disebut dengan “syema” (dengarlah). Dan mereka dituntut untuk mengasihi Tuhan. Kasih itu tidak merupakan perasaan melulu, karena “mengasihi” Allah berarti menurut segala perintah-Nya dengan tekad yang bulat. Dalam Ulangan 10:18-19 Kasih Allah terhadap kaum asing menjadi nampak dalam hal bahwa Dia menyediakan sandang-pangan untuk mereka, maka umat Israel disuruh mengasihi kaum asing itu secara praktis juga, sesuai dengan teladan Tuhan. Dapat disimpulkan bahwa “kasih” berarti “menaruh perhatian penuh kepada kepentingan pihak lain”. Maka dari situ “mengasihi TUHAN” berarti “menaruh perhatian penuh kepada kepentingan TUHAN”, dengan mengutamakan apa yang Tuhan utamakan. Allah yang orang Israel kasihi itu adalah Allah yang esa yaitu Tuhan.[17]
Pengakuan yang terdapat di dalam Ulangan 6:4 yaitu Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa. Tuhan yang esa telah dinyatakan dalam Yesus Kristrus (I Kor. 8:5). Allah itu unik dan keilahina itu adalah milik-Nya semata. Bangsa Israel hanya boleh tunduk dalam perjanjian religius kepada Dia (Tuhan yang esa) saja yang harus mereka layani dalam seluruh keberadaan mereka, dengan segenap kasih mereka (Ul. 6:5). Kasih itu harus diterapkan dalam hubungan anak dengan orang tua diantara sesama manusia, dan kasih kepada Tuhan. Kasih yang diberikan bangsa Israel terhadap Allah adalah meliputi segalanya. hanya satu Allah bagi bangsa Israel dan semua daya mereka diarahkan untuk mengabdi kepada Allah yang esa.[18]
Dalam Ulangan 6:6 “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan”. Kemurahan Allah yang disebut dengan Allah yang esa telah menyatakan kasih-Nya kepada umat-Nya (Yoh. 14:15). Karena Allah itu benar-benar ada sehingga Allah memerintahkan bangsa Israel untuk mengajarkan kepada anak-anak segala sesuatu yang menjadi peraturan-peraturan Tuhan (Ul. 6:20), dan mereka harus merenungkan siang dan malam (Ul. 7b-9) diayat yang ke 14 jelas bahwa Allah yang esa telah melarang bangsa Israel untuk mengikuti allah-allah lain, karena hanya ada satu Allah yaitu Allah yang  membawa mereka keluar dari Tanah perbudakan, yaitu Tuhan yang esa yang telah dinyatakan dalam diri Yesus Kristus.[19]
 

BAB III  

SIGNIFIKANNYA BAGI KRISTEN MASA KINI
            Allah yang benar adalah yang tidak terbatas, Allah yang melampauhi segala sesuatu, Allah Yang Esa, Allah yang tidak ada bandingannya, dan Allah menyatakan diri sebagai AllahTritunggal. Pribadi itu terdiri dari Bapa, Anak dan Roh Kudus, ketiga Pribadi ini adalah Satu yaitu Allah.[20] Musa  sangat menekankan   pentingnya  kepercayaan akan  "keesaan  Tuhan"  kepada orang-orang  Yahudi, dan dalam Perjanjian Baru  pun   hal  tersebut juga dilakukan oleh Yesus terhadap pengikutnya “Tuhan  Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihi  Tuhan,  Allahmu dengan  segenap  hatimu  dan  dengan  segenap  jiwamu  dan  dengan segenap  akal  budimu  dan  dengan segenap  kekuatanmu”.(Mrk.12:29-30).
            Allah tidak bisa kita ukur dengan kemampuan kita berpikir, bagaimanapun kepintaran kita untuk mengenal Dia kita tetap terbatas. Ayub mengatakan secara paling baik dalam Ayub 26:14. Ketika memandang ciptaan, ia begitu terpukau lalu berkata “Sesungguhnya semuanya itu hanya ujung-ujung jalan-Nya”.  Inilah yang mau dikatakan oleh Ayub “manusia sedikit sekali mengenal Allah. Bahkan kalau orang melihat dalam sistem matahari, mereka sebenarnya hanya melihat ujung-ujung jalan-Nya saja”. Perkataan ini memberi kita pelajaran bahwa hal-hal yang kita ketahui dari Tuhan tidak sama dengan hal-hal yang Dia punya. Sungguh kita terbatas tetapi Allah tidak pernah terbatas. Bahkan banyak orang frustasi dengan Allah karena mereka tidak bisa memasukkan Allah didalam otak mereka. Untuk mengenal Allah Tritunggal kita tidak bisa pahami dengan memakai rumusan matematika. Sedangkan kita orang Kristen masih belum memahami Allah yang sesungguh-Nya, karena masih banyak hal yang tersembunyi dalam diri Allah yang tidak kita ketahui secara logika. Usaha untuk memahami itu mencengkam, sebab itu menunjukkan betapa terbatasnya pengetahuan kita ini. Studi tentang Allah bisa menakutkan kita sebab itu membuat kita sadar betapa agung-Nya Dia, dan sekaligus kita sadar betapa kecilnya kita.[21]
            Israel mengungkapkan keyakinannya yang mengenai Tuhan Allah itu bukan karena mereka terdorong oleh akalnya, yang ingin berfilsafat tentang Tuhan Allah, malainkan karena terdorong oleh kelimpahan kasih karunia Tuhan Allah kita yang esa, yang telah dianugerahkan kepadanya. Oleh sesab itu Israel ingin memuji dan memuliakan Tuhan. Karena Isarel sudah menerima kasih karunia dari Tuhan untuk mengenal Tuhan, maka orang kristen pada pada saat ini juga akan mengalami hal yang sama seperti orang Israel untuk menerima kasih karunia dari Tuhan untuk mengenal Tuhan.[22]
Karakter pengenalan akan Allah memeperbesar hasrat keinginan kita untuk mencintai Dia. Untuk mencitai Tuhan kembali pada Ulangan 6:4, disitulah kita menemukan syema “mendengar” yang menunjukkan bahwa “Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa”. Dan Tuhan memberikan perintah yang harus kita lakukan yaitu mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Mengasihi Tuhan harus dengan ketulusan hati.[23]
Umat-Nya harus takut kepada Tuhan
Tuhan yang esa ini kita harus takut kepada-Nya, karena Dialah yang menetapkan segala peraturan yang harus kita ajarkan dimanapun kita berada, yang ada di dalam Ulangan 6:1-2. Yang perlu untuk takut akan Allah kesadaran akan kekudusan, keadilan dan kebenaran-Nya sebagai pasangan terhadap Kasih pengampunan-Nya, yaitu; mengenal Dia dan memahami sepenuh-Nya siapakah Tuhan yang esa. Ketika umat-Nya percaya dan menaruh iman kepada-Nya akan diselamakan sesuai dengan janji-janji-Nya.[24] Dengan umat-Nya takut kepada-Nya berarti umat-Nya sangat mengasihi Tuhan,  Yang diminta Tuhan kepada umat-Nya dan hamba-Nya bukanlah kecakapan untuk memimpin, berorganisasi, berkhotbah, bernyanyi, atau apapun yang lain, melainkan hati yang mengasihi Tuhan (Yoh. 21: 15-19). Tanpa kasih kita kepada Tuhan, pelayanan dapat menjadi jerat bagi kita. Hal itu menyedihkan hati Tuhan. Seluruh pelayanan kita, tanpa dilandasi oleh kasih kepada Tuhan, tidak akan berarti apa-apa di hadapan Tuhan (Why. 2:1-5).[25]
BAB IV

KESIMPULAN
Syema ini merupakan pengakuan iman monoteisme (satu Tuhan) Israel yang paling mendasar. Isinya memberikan penegasan bahwa Allah secara total berbeda dengan yang lain. Ia menyatakan diri- Nya kepada Israel dan dapat dipercaya karena Ia tidak berubah. Melalui syema Israel diajar untuk memilih persekutuan yang intim dengan Tuhan sebagai prioritas utama. Seluruh aspek kehidupan Israel didasari oleh hubungan cintanya dengan Tuhan. Di dalam cinta ini terkandung komitmen dan kesetiaan yang menyeluruh dan total. Syema ini, Pertama, harus tertanam dalam hati orang Israel (ayat 6). Kedua,  harus tertanam dalam hati anak-anak Israel (ayat 7). Ketiga, harus menjadi bagian hidup sehari-hari mereka (ayat 7). Keempat,  harus menjadi identitas pribadi mereka (ayat 8). Kelima,  menjadi identitas keluarga serta masyarakat Israel (ayat 9). Tidak ada satu bagian pun dalam kehidupan orang Israel yang terlepas dari relasi mereka yang penuh kasih kepada Tuhan.
Impilikasinya dalam kehidupan Kristen adalah, Pertama, Allah orang Kristen adalah Allah yang hanya mau dikenal dan disembah sebagai Bapa, Putra dan Roh Kudus. Allah memang esa, tetapi mengenak keesaanNya saja tidaklah menyelamatkan. Seluruh rencana keselamatan Allah hanya dapat dipahami dan diimani dalam hubungan dengan keunikan diri Allah, penyingkapan diri-Nya yang progresif, rencana dan cara kerjaNya. Allah ingin kita mempercayai dan mengimani Dia bukan hanya sebagai Allah yang esa, yang mengingatkan dan mengajarkan jalan keselamatan dan kehidupan yang diperkenanNya, tetapi ia menginginkan kita mengenalNya sebagaimana Dia ada, yaitu Bapa, Putra dan Roh Kudus dengan keunikanNya masing-masing. Alkitab menegaskan bahwa bahwa Allah tidak mungkin dapat dikenali diluar dari apa yang Dia sendiri singkapkan (Matius 16:17; Bandingkan Yohanes 14:6; 15:16). Kedua, iman kepada Allah Trinitas adalah salah satu keunikan iman Kristen yang membedakannya dari iman semua agama-agama lain. Tanpa pengenalan akan Ketrinitasan Allah, perbedaan antara iman Kristen dengan iman agama-agama lain akan menjadi kabur. Demi membangun jembatan komunikasi dan semangat kesatuan serta toleransi, kita tidak boleh mengorbankan ajaran esensial Allah Trinitas ini hanya supaya kita bisa diterima oleh pemeluk kepercayaan agama-agama lainnya. Alkitab menegaskan bahwa diluar kepercayaan kepada Allah Trinitas tidak ada keselamatan (1 Yohanes 4:2-3).  Ketiga, pengenalan tentang Allah Trinitas bukanlah pengenalan rasional tetapi pengenalan iman yang lahir kebenaran Alkitab. Penalaran manusia tidak dapat memahami Trinitas dengan tuntas, demikian pula logika tidak dapat menjelaskannya dengan tuntas. Tetapi karena Alkitab menyatakannya maka kita menerimanya.
Memang  trinitas ini tidak bisa diterima dengan akal tetapi hanya dengan iman kepada Tuhan. Ketiga pribadi itu tidak boleh disahkan satu dengan yang lain, karena ketiga pribadi tu adalah satu (mono) yaitu Tuhan. Apa yang telah diajarkan dalam Alkitab mengenai kebenaran tentang Tuhan hendaklah itu kita responi dalam kehidupan kita dan menyatakan juga  kepada semua orang. Dimana kita telah mencintai kebenaran dan mengasihi Tuhan disitulah kita menerima kasih karunia yang datang dari Tuhan untuk mengenal Tuhan secara pribadi. Didalam pribadi Tuhan ada keselamatan kita yang telah dinyatakan dalam satu nama yaitu dalam nama Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadi kita.



[1]Tony Evans, Teologi Allah (Malang: Gandum Mas, 1999) 19.
[2]Herbert Wolf, Pengenalan Pentateukh (Malang: Gandum Mas, 1998) 297.
[3]Andrew E. Hill, Survei Perjanjian Lama (Malang: Gandun Mas, 1998) 239.
[4]Tony Evans, Teologi Allah, 23.
[5]Richard Baucham, Teologi Mesianis (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993) 113.
[6]Henk ten Napel, Kamus Teologi Inggris-Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1989)  126.
[7]Richard Baucham, Teologi MesianiS. 114.
[8]Luis Berkhof, Teologi Sistematika, Doktrin Allah (Surabaya: Lembaga Reformed Ijili Indonesia, 1993) 143.
[9]Ibid. 59-61.
[10]Ichwei G. Indra, Teologi Sistematika (Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 1999) 71.
[11]Ibid. 73.
[12]Charles C. Ryrie, Teologi Dasar (Yogyakarta: Yayasan ANDI, 1991) 70-71.
[13]Witness Lee, Wahyu dan Pergerakan Allah Tritunggal (Jakarta: Yayasan Perpustakaan Injil, 1995) 15.
[14]Millard J. Erickson, Teologi Kristen, Vol I (Malang: Gndum Mas,1999) 419-420.
[15]W. R. F. Browning, Kamus Alkitab (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007) 429.
[16]Herbert Wolf, Pengenalan Pentateukh, 297-299.
[17]I. J. Cairns, Tafsiran Kitab Ulangan, Pasal 1-11 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1986) 132-133.
[18]Dianne Bergant, Tafsir Alkitab Perjanjian Lama (Yogyakarta: Kanisius, 2002) 205.
[19]Charles F. Pfeiffer, Tafsiran Alkitab Wicliffe (Malang: Gandum Mas, 2004) 452-453.
[20]Stephen Tong, Allah Tritunggal (Jakarta: Lembaga Refoemed Injili Indonesia, 1993) 29.
[21]Tony Evans, Teologi Allah. 68.
[22]Harun Hadiwijono, Iman Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1980) 73.
[23]Ibid. 382.
[24]Donal C. Stamps, Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan (Malang: Gandum Mas, 1994) 286.
[25]http://www. alkitab.sabda.org/commentary.