BAB
I
PENDAHULUAN
Teologi Allah merupakan teologi yang
berdasarkan kebenaran tentang Allah. Untuk mengenal kebenaran akan Tuhan
terlebih dahulu kita harus menaruh kepercayaaan kita kepada-Nya. Mengenal Allah
akan menuntut kita tinggal diam di dalam Dia. Mengenal akan Allah maksudnya
adalah percaya bahwa Allah itu benar-benar ada yang melingkupi segala sesuatu
dan yang berkuasa diatas segala sesuatu.[1] Dalam
pelayanan Musa dia sering memakai gaya khotbah menasihatkan bangsa Israel dan mendorong bangsa Israel agar bangsa
Israel menaati Tuhan sepenuhnya. Bahwa perintah yang mereka terima itu adalah
perintah dari Allah yang mereka sembah yaitu Allah yang esa. [2] Allah
sudah bertindak dalam sejarah bangsa Israel untuk menerima pemerintahan Allah
yang penuh kebajikan. Sejarah itu bukti dari pilihan atas bangsa Israel.[3]
Pengenalan akan Allah selalu ada dalam sejarah, Allah suka menunjukkan kasih
setia-Nya, keadilan-Nya dan kebenaran-nya diatas bumi ini. Pengalaman manusia
untuk mengenl Allah adalah terbatas, sehingga segala usaha manusia untuk
membuktikan bahwa Tuhan itu adalah esa hasilnya selalu tidak memuaskan.[4]
Sejarah
keesaan Allah
Allah dalam teologi Moltmann pada
tahun 1960-an pada buku yang telah ditulisnya yang berjudul teolog pengharapan tidak tersurat
trinitas. Alasan utama untuk menyatakan ini adalah bahwa doktrin tentang Allah didiskusikan
terutama dalam konteks permasalahan modern tentang penyataan ilahi, dimana keperhatian
Moltmann adalah untuk membangun suatu konsep tentang penyataan sebagai janji,
dalam usahanya untuk menentang kecenderungan umum yang melihat penyataan
sebagai epifani dari kebenaran abadi.[5] Epifani
artinya penyataan diri Yesus Kristus.[6] Allah
tidak membuat diri-Nya dikenal dalam suatu
keadaan “ada” yang tidak dibatasi waktu, tanpa sejarah atau masa depan. Allah
alkitabiah membuat diri-Nya dikenal di
dalam janji-janji-Nya akan masa depan yang berwaktu, dimana sejarah memperoleh
arah dan makna. Apa yang telah dijanjikan Allah, tidak hanya penyingkapan dari
apa yang sudah benar, tetapi lebih dari pada itu, sesuatu yang baru, kenyaataan
yang belum ada. Moltmann mengkritik doktrin Bart tentang trinitas, yang
mengatakan bahwa Allah menyatakan diri-Nya dengan mengambil kemanusiaan dalam
lingkaran pengenalan diri-Nya yang abadi, ini adalah suatu versi epifani dari yang “ada” yang abadi. Moltmann
mengatakan kebenaran trinitas Allah tidak diberikan sebagai penyingkapan dari
kebenaran yang mengatasi waktu, itu adalah kebenaran dari Yesus Kristus yang
tetap menantikan masa depan-Nya, dari Roh yang adalah kekuatan kebangkitan dari
kematian, dan dari Allah yang tetap menanti untuk menjadi semua didalam
manusia.[7]
Ada
beberapa pandangan teolog tentang keesaan Allah
Masa sebelum reformasi, orang Yahudi
pada zaman Tuhan Yesus sangat menekankan kesatuan Allah dan penekanan ini terus
dipertahankan dalam Gereja Kristen. Akibatnya adalah bahwa sebagian orang
berpendapat yang berbeda tentang Allah Tritunggal. Tokoh yang pertamakali
memakai istilah Tritunggal adalah
Tertulian.
1. Tertullian.
Doktrinnya masih tidak begitu diterima
karena dia meletakkan posisi Allah Anak dibawah Allah Bapa.
2. Ketika
Tertulian membuka pikiran tentang Tritunggal muncullah doktrin Origen yang
mengatakan secara eksplisit (terus terang, tegas) Allah Putra berada dibawah
posisi dibawah Allah Bapa dalam esensinya dan bahkan Roh Kudus berada dibawah
Allah Putra. Origen mengatakan bahwa Allah Putra makhluk ciptaan pertama dari
Allah Bapa, dan Roh Kudus adalah makhluk pertama dari Allah Putra. Ketiga
pribadi dari Allah Tritunggal ini menjadi berbeda tingkatannya.
3. Orang-orang
Arian menyangkal keilahian dari Yesus dan Roh Kudus sebagai Allah.
Sesudah
masa Reformasi tidak didapati perkembangan lebih jauh tentang doktrin tentang
Tritunggal, tetapi hanya berulang-ulang untuk dipelajari, tetapi masalah ini
tidak pernah selesai. Kaum Armenian ingin tetap mempertahankan kesatuan Allah.
Tetapi mereka menganggap bahwa Allah Bapa memiliki kekuasaan tertentu atas
kedua pribadi yang lain, dalam tingkatan, kemuliaan dan kuasa.[8] Sejak awal mulanya, doktrin ini selalu menjadi batu sandungan bagi orang
yang memfungsikan akalnya dalam beragama. Doktrin kristiani ini menyatakan
bahwa Tuhan terdiri dari tiga oknum (pribadi) yang sezat, sehakikat dan senilai
yaitu: Allah Bapa, Allah Anak (Yesus Kristus) dan Allah Roh Kudus. Soedarmo
mempertegas rumusanya dalam buku Intisari Iman Kristen: “Allah yang
satu dan esa itu memperkenalkan diri-Nya sebagai Allah di atas kita (Allah
Bapak), sebagai Allah di tengah-tengah kita (yakni Yesus Kristus) dan sebagai
Allah di dalam kita (yakni Roh Kudus). Ketiganya tidak dapat dipisah-pisahkan
satu sama lain, namun dibeda-bedakan juga. Itulah yang dimaksud dengan istilah
Tritunggal”. Soedarmo berterus terang dalam bukunya Ikhtisar Dogmatika:
“Kita tentu insaf bahwa Trinitas memang tidak dapat dimengerti”.
Ajaran
Keesaan Allah[9]
Dalam Kitab Ulangan 6:4 mencatat
bahwa Allah kita adalah esa, disini kita melihat apa yang dimaksudkan “Allah
kita itu adalah esa”. Ini adalah kebenaran
yang paling sukar diterima oleh orang yang tidak mengenal Tuhan atau yang tidak
percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Hanya ada satu Allah Ulangan 6: 4 “Saudara-saudara, ingatlah! Hanya
TUHAN, dan TUHAN saja Allah kita!”, Allah sendiri
mengatakan, “Kecuali Aku tidak ada Allah” (Yes. 45:5). Paulus mengatakan juga
hal yang sama “Tidak ada Allah yang lain selain Allah yang esa” (I Kor. 8:4)
hanya ada satu Allah yang benar, bukan Allah agama ini atau agama itu. Dibawah
ini ada penjelasan mengenai Allah itu adalah esa.
1.
Satu Allah dengan
tiga pribadi
Namun Allah yang esa ini
“terdiri dari: tiga pribadi yang berbeda: Bapa, Anak dan Roh yang sering
disebut dengan (Tritunggal). Istilah Tritunggal tidak terdapat dalam Alkitab,
namun ajaran mengenai “ketigaan” Allah muncul diseluruh Alkitab. Bapa, Anak dan
Roh memang beda pribadi, tetapi mereka adalah satu yaitu Tuhan.
2.
Tritunggal dalam penciptaan
Pada
Kejadian 1:1”Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”. Allah dalam
bahasa Ibrani “Elohim”, suatu kata jamak. Bahkan sejak kalimat pertama
dari Alkitab, Allah memberi tahu kita bahwa Dia itu jamak sekaligus tunggal. Dia
menunjukkan hal ini dalam penciptaan manusia, karena menurut Kejadian 1:26
Allah berfirman “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa
Kita......” pada ayat 27 “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya”.
Teks ini berpindah secara bebas dari bentuk jamak kebentuk tunggal. Mengapa
bisa terjadi, karena Allah itu adalah esa “terdiri dari” tiga pribadi.
3. Tritunggal
dalam seluruh Alkitab
Tritunggal
ini bekerja dalam karya keselamatan (I Pet. 1:1-2). Dalam II Korintus 13:13
Paulus memberi tahu kita bahwa salah satu dari Pribadi Tritunggal itu memberi
kita kasih karunia, pribadi yang lain mengasihi kita, dan yang lain menyatukan
kita. Tentu saja pelayan-pelayan ini tidak mengucilkan satu dengan yang lain.
Semua Pribadi Tritunggal bekerjasama untuk menguduskan kita. Menurut Alkitab penciptaan itu berasal dari Allah (Kej. 1:1),
dari Yesus (Kol. 1:16) dan dari Roh Kudus (Kej. 1:2; Mzm. 104: 30). Tritunggal
bekerja dengan aktif dalam doa (Ef. 2:18) dan dalam pemberkatan kaum beriman
(II Tes. 2:13). Tringtunggal ini merupakan suatu doktrin yang sulit untuk
diterima dan dimengerti. Tritunggal ini kita tidak bisa menerima dengan akal
tetapi hanya bisa diterima dengan iman.
BAB
II
TEOLOGI
KETUHANAN MENURUT ULANGAN 6
Keesaan
Allah Dalam Perjanjian Lama
Keesaan
Allah daalm Perejanjian Lama dinyatakan oleh syema (Ul. 6:4-5) pertama-tama mengakui bahwa Allah mereka (Israel)
adalah Tuhan (Yahweh). Dengan nama ini Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai
sekutu Israel yang setia dan yang memenuhi segala janji-Nya (Kel. 3:15-17)
namun juga Tuhan disebut dalam Yesaya 44:6, yaitu bahwa Dia yang terdahulu dan
yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Nya. Tuhan selanjutnya
diakui sebagai yang esa. Kata esa dalam bahasa Ibrani “ekhad” menunjuk kepada kedudukan
yang khas, yang berbeda dari allah-allah yang lain yang dimiliki oleh bangsa-bangsa disekitar
bangsa Israel. Kata esa juga bisa dikatan bahwa Tuhan itu satu dalam Firman dan
karya-Nya (Ul. 4: 39). Walaupun banyak dewa yang disembah seperti: Baal-Berit
(Hak. 8:33), Baal-Gad (Yos. 11:15), Baal-Hazor (II Sam. 13:23), Baal-Peor (Bil.
25:3,5) dan sebagainya. Akan tetapi, Allah adalah Tuhan yang esa di mana saja;
tidak ada Tuhan-Sinai, Tuhan-Silo atau Tuhan-Yerusalem. Oleh karena Tuhan itu
esa maka dituntut pula suatu penyerahan yang bulat (esa) dari Israel yang
terdapat dalam Ulangan 6:5.[10]
Keesaan
Allah dalam Perjanjian Baru
Keesaan Allah dalam Perjanjian Baru dinyatakan
sendiri oleh Tuhan Yesus “ Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal
Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah
Engkau utus.”
(Yoh. 17:3). Sama seperti dalam Perjanjian Lama, uangkapan satu-satunya Allah yang benar
dalam bahasa Yunani (ton monon
elethinon theon) disini juga menunju kepada keesaan Allah dalam Firman dan
karya-Nya. Hal ini dibuktikan dengan dihubungkannya keesaan Allah dengan pengutusan Yesus Kristus
sebagai Firman yang telah menjadi manusia (Yoh. 1:14). Kata satu-satu-nya monon disini bukan angka “satu” secara
matematis, melainkan “kesatuan”- kesatuan hubungan antara Allah dengan umat-Nya
didalam Tuhan Yesus Kristus, seperti yang dikatakan Paulus “namun bagi kita hanya ada satu
Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang
untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya
segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup” (I Kor. 8:6;
Ef. 3:4-6; Yak. 2:9) pernyataan ini adalah sungguh jelas. Disini letak
perbedaan yang mutlak antara Tuhan kita dengan allah-allah lain, yaitu bahwa Tuhan
kita dalam teologi disebut Singularitas
Dei. Ini pengakuan kepada keesaan
Tuhan dalam Yesus juga menuntut penyerahan yang bulat (esa) dari umat-Nya (Mat.
22:37).[11]
Ada lagi
beberapa bukti dalam Alkitab tentang Allah yang esa, yaitu:
1.
Bapa diakui sebagai
Allah (Yoh. 6:27; I Pet. 1:2).
2.
Yesus Kristus
diakui sebagai Allah. Dia sendiri menyatakan sifat-sifat-Nya yang hanya
dimiliki Allah, seperti Mahatahu (Mat. 9:4), Mahakuasa (Mat. 28:18), Mahahadir
(Mat. 28:20). Dia melakukan perkara-perkara yang hanya dilakukan oleh Allah,
seperti: mengampuni dosa (Mrk. 2:1-21), membangkitkan orang mati (Yoh. 12: 9),
dan menopang segala sesuatu (Kol. 1:17), Penciptaan (Yoh. 1:3) dan menghakimi
(Yoh. 5:27).
3.
Roh Kudus diakui
sebagai Allah. Dia disebut Allah (Kis. 5:3-4), Dia memiliki sifat-sifat yang
mampu dimiliki oleh Allah, seperti Mahatahu (I Kor. 2:10), Mahahadir (I Kor
6:19).
Dalam Matius 28:19, dengan cara
yang paling baik, menyatakan baik keesaan maupun ketigaan dengan menyatukan
kepada ketiga Pribadi itu dan
mengesahkannya didalam satu nama tunggal.[12]
Keesaan Tuhan dalam
Ulangan 6
Dari kitab Kejadian
sampai kitab Ulangan menyingkapkan Allah Tritunggal yang terwujud dalam Kristus
sebagai pusat dan ruang lingkup kekekalan Tuhan. Kitab Ulangan menyingkapkan Kristus
sebagai berkat atau sumber kemakmuran dan segala sesuatu bagi umat pilihan
Allah tritunggal.[13] Disepanjang
Perjanjian Lama telah dianggap bahwa hanya satu Allah yaitu Allah Abraham,
Ishak dan Yakub, dan bukan banyak Allah. Sebuah petunjuk yang lebih jelas
tentang keesaan Allah terdapat dalam Syema
dikitab Ulangan, yaitu
kebenaran-kebenaran kabar yang harus dihayati oleh orang Israel dan harus
mereka tanamkan pada anak-anak mereka. Mereka harus merenungkan ajaran-ajaran ini
“Apa yang Kuperintahkan kepadamu pada hari haruslah engkau perhatikan” (Ul.
6:6). Orang Israel harus membicarakannya dirumah atau ketika dalam perjalanan,
ketika berbaring atau ketika bangun (Ul. 6:7). “Dengarlah, hai orang Israel:
Tuhan itu Allah kita” (Ul. 6:4). Sekalipun kita memiliki berbagai terjemahan
yang dari naskah Ibrani, semuanya menekankan keilahian Yehova yang unik dan
tanpa tandingan. Yang merupakan kebenaran yang harus dipertahankan oleh bangsa
Israel adalah sebuah perintah yang dilandaskan pada keunikan Allah, “Kasihilah
Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan
segenap kekuatanmu”(Ul. 6:5). Karena Allah itu esa adanya, penyerahan Israel
tidak boleh terbagi. Setelah ucapan syema
(Ul. 6:4-5), perintah-perintah dalam Keluaran 20 sebenarnya diulangi
kembali. Dengan perhatian positif umat Allah diperintahkan, “Engkau harus takut
akan Tuhan, Allahmu; kepada Dia haruslah engkau beribadah dan demi nama-Nya
haruslah engkau bersumpah” (Ul. 6:13). Dengan perkataan negatif mereka
diperintahkan, “Janganlah kamu mengikuti allah lain, dari antara allah
bangsa-bangsa sekelilingmu” (Ul. 6:14). Jelaslah, Allah itu esa adanya,
sehingga menutup kemungkinan adanya dewa bangsa-bangsa disekitar Israel yang
dapat diaggap benar sehingga layak untuk dilayani dan disembah.[14]
Kepentingan
Syema
Dalam tradisi Yudaism Ulangan 6:4
menjadi suatu pengakuan iman yang wajib diucapkan tiap pagi dan malam (bdg.
Ayat 7). Kata syema (dengarlah)
merupakan pernyataan iman Yahudi atas keesaan Allah (Ul. 6:4).[15] Syema
ini disebut dogma fundamental dalam Perjanjian Lama disebut oleh Tuhan Yesus
sebagai yang paling penting dari semua hukum (Mark. 12:29-30). Pada saat Iblis
mencobai Yesus di Bait Suci, Yesus mengutip Ulangan 6:16, “Jangan engaku
mencobai Tuhan, Allahmu!” (Mat. 4:7). Dan ketika Iblis menawarkan segala
kerajaan ini kepada Yesus apa bila Ia mau sujud menyembah dia, Tuhanpun
menjawab, “engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu dan hanya kepada Dia sajalah
engkau berbakti!” (Mat. 4:10; bgd. Ul. 6:13). Ketika Yesus memakai ayat Ulangan
6 ini, secara tidak langsung Yesus
menekankan pentingnya syema di
Ulangan 6:4-9 itu dan menyatakan bahwa seseorang yang mengasihiTuhan yang esa
itu dengan sepenuh hati dan yang betul-betul mengetahui perintah-Nya, dapat
menggagalkan rencana-renca Iblis. Ada dua
hukum yang terbesar dalam Alkitab yaitu: 37Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu,
dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. 38 Itulah perintah yang terutama dan terpenting!
39 Perintah kedua sama dengan yang pertama itu:
Cintailah sesamamu seperti engkau mencintai dirimu sendiri. 40 Pada kedua hukum
inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." Matius 22:37-40. Hukum yang pertama dan sepuluh hukum
ini merupakan pernyataan yang jelas mengenai keunikan Allah yang esa. Sedangkan
bangsa-bangsa kafir mungkin menyembah allah-allah lain dengan penuh pengabdian.
Israel telah menerima bukti berlimpah-berlimpah yang menyatakan bahwa “Tuhan
Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia” (Ul. 435; 32:39), pernyataan ini
mengacu kepada Allah trintunggal. Dalam Ulangan 6:4-5 Musa mengajarkan
perintah-perintah ini kepada bangsa Israel agar mengajarkan kepada anak-anak
mereka apa yang telah diperintah oleh
Tuhan kepada mereka, bahwa semua orang harus berbakti kepada Allah Israel yaitu Allah yang esa yang mereka sembah dan
yang mereka percayai.[16]
Pengakuan
kepada Tuhan yang esa
Pengakuan
ini yang disebut dengan “syema”
(dengarlah). Dan mereka dituntut untuk mengasihi Tuhan. Kasih itu tidak
merupakan perasaan melulu, karena “mengasihi” Allah berarti menurut segala
perintah-Nya dengan tekad yang bulat. Dalam Ulangan 10:18-19 Kasih Allah
terhadap kaum asing menjadi nampak dalam hal bahwa Dia menyediakan
sandang-pangan untuk mereka, maka umat Israel disuruh mengasihi kaum asing itu
secara praktis juga, sesuai dengan teladan Tuhan. Dapat disimpulkan bahwa “kasih”
berarti “menaruh perhatian penuh kepada kepentingan pihak lain”. Maka dari situ
“mengasihi TUHAN” berarti “menaruh perhatian penuh kepada kepentingan TUHAN”,
dengan mengutamakan apa yang Tuhan utamakan. Allah yang orang Israel kasihi itu
adalah Allah yang esa yaitu Tuhan.[17]
Pengakuan yang terdapat di dalam Ulangan 6:4 yaitu
Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa. Tuhan yang esa telah dinyatakan dalam
Yesus Kristrus (I Kor. 8:5). Allah itu unik dan keilahina itu adalah milik-Nya
semata. Bangsa Israel hanya boleh tunduk dalam perjanjian religius kepada Dia
(Tuhan yang esa) saja yang harus mereka layani dalam seluruh keberadaan mereka,
dengan segenap kasih mereka (Ul. 6:5). Kasih itu harus diterapkan dalam
hubungan anak dengan orang tua diantara sesama manusia, dan kasih kepada Tuhan.
Kasih yang diberikan bangsa Israel terhadap Allah adalah meliputi segalanya. hanya satu Allah bagi bangsa Israel dan semua daya mereka
diarahkan untuk mengabdi kepada Allah yang esa.[18]
Dalam Ulangan 6:6 “Apa yang kuperintahkan kepadamu
pada hari ini haruslah engkau perhatikan”.
Kemurahan Allah yang disebut dengan Allah yang esa telah menyatakan kasih-Nya
kepada umat-Nya (Yoh. 14:15). Karena Allah itu benar-benar ada sehingga Allah
memerintahkan bangsa Israel untuk mengajarkan kepada anak-anak segala sesuatu
yang menjadi peraturan-peraturan Tuhan (Ul. 6:20), dan mereka harus merenungkan
siang dan malam (Ul. 7b-9) diayat yang ke 14 jelas bahwa Allah yang esa telah
melarang bangsa Israel untuk mengikuti allah-allah lain, karena hanya ada satu
Allah yaitu Allah yang membawa mereka
keluar dari Tanah perbudakan, yaitu Tuhan yang esa yang telah dinyatakan dalam
diri Yesus Kristus.[19]
BAB
III
SIGNIFIKANNYA
BAGI KRISTEN MASA KINI
Allah yang benar adalah yang tidak
terbatas, Allah yang melampauhi segala sesuatu, Allah Yang Esa, Allah yang
tidak ada bandingannya, dan Allah menyatakan diri sebagai AllahTritunggal.
Pribadi itu terdiri dari Bapa, Anak dan Roh Kudus, ketiga Pribadi ini adalah
Satu yaitu Allah.[20] Musa sangat menekankan pentingnya
kepercayaan akan "keesaan Tuhan"
kepada orang-orang
Yahudi, dan dalam Perjanjian Baru
pun hal tersebut juga dilakukan oleh Yesus terhadap
pengikutnya “Tuhan Allah kita, Tuhan itu
esa. Kasihi Tuhan, Allahmu dengan segenap
hatimu dan dengan
segenap jiwamu dan
dengan segenap
akal budimu dan
dengan segenap kekuatanmu”.(Mrk.12:29-30).
Allah tidak bisa kita ukur dengan
kemampuan kita berpikir, bagaimanapun kepintaran kita untuk mengenal Dia kita
tetap terbatas. Ayub mengatakan secara paling baik dalam Ayub 26:14. Ketika
memandang ciptaan, ia begitu terpukau lalu berkata “Sesungguhnya semuanya itu hanya
ujung-ujung jalan-Nya”. Inilah yang mau
dikatakan oleh Ayub “manusia sedikit sekali mengenal Allah. Bahkan kalau orang
melihat dalam sistem matahari, mereka sebenarnya hanya melihat ujung-ujung jalan-Nya
saja”. Perkataan ini memberi kita pelajaran bahwa hal-hal yang kita ketahui
dari Tuhan tidak sama dengan hal-hal yang Dia punya. Sungguh kita terbatas
tetapi Allah tidak pernah terbatas. Bahkan banyak orang frustasi dengan Allah
karena mereka tidak bisa memasukkan Allah didalam otak mereka. Untuk mengenal
Allah Tritunggal kita tidak bisa pahami dengan memakai rumusan matematika.
Sedangkan kita orang Kristen masih belum memahami Allah yang sesungguh-Nya,
karena masih banyak hal yang tersembunyi dalam diri Allah yang tidak kita
ketahui secara logika. Usaha untuk memahami itu mencengkam, sebab itu
menunjukkan betapa terbatasnya pengetahuan kita ini. Studi tentang Allah bisa
menakutkan kita sebab itu membuat kita sadar betapa agung-Nya Dia, dan
sekaligus kita sadar betapa kecilnya kita.[21]
Israel mengungkapkan keyakinannya
yang mengenai Tuhan Allah itu bukan karena mereka terdorong oleh akalnya, yang
ingin berfilsafat tentang Tuhan Allah, malainkan karena terdorong oleh
kelimpahan kasih karunia Tuhan Allah kita yang esa, yang telah dianugerahkan
kepadanya. Oleh sesab itu Israel ingin memuji dan memuliakan Tuhan. Karena
Isarel sudah menerima kasih karunia dari Tuhan untuk mengenal Tuhan, maka orang
kristen pada pada saat ini juga akan mengalami hal yang sama seperti orang
Israel untuk menerima kasih karunia dari Tuhan untuk mengenal Tuhan.[22]
Karakter
pengenalan akan Allah memeperbesar hasrat keinginan kita untuk mencintai Dia.
Untuk mencitai Tuhan kembali pada Ulangan 6:4, disitulah kita menemukan syema “mendengar” yang menunjukkan bahwa
“Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa”. Dan Tuhan memberikan perintah yang harus
kita lakukan yaitu mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Mengasihi Tuhan harus
dengan ketulusan hati.[23]
Umat-Nya
harus takut kepada Tuhan
Tuhan
yang esa ini kita harus takut kepada-Nya, karena Dialah yang menetapkan segala
peraturan yang harus kita ajarkan dimanapun kita berada, yang ada di dalam Ulangan
6:1-2. Yang perlu untuk takut akan Allah kesadaran akan kekudusan, keadilan dan
kebenaran-Nya sebagai pasangan terhadap Kasih pengampunan-Nya, yaitu; mengenal
Dia dan memahami sepenuh-Nya siapakah Tuhan yang esa. Ketika umat-Nya percaya
dan menaruh iman kepada-Nya akan diselamakan sesuai dengan janji-janji-Nya.[24]
Dengan umat-Nya takut kepada-Nya berarti umat-Nya sangat mengasihi Tuhan, Yang diminta Tuhan kepada umat-Nya dan
hamba-Nya bukanlah kecakapan untuk memimpin, berorganisasi, berkhotbah,
bernyanyi, atau apapun yang lain, melainkan hati yang mengasihi Tuhan (Yoh. 21: 15-19). Tanpa
kasih kita kepada Tuhan, pelayanan dapat menjadi jerat bagi kita. Hal itu
menyedihkan hati Tuhan. Seluruh pelayanan kita, tanpa dilandasi oleh kasih kepada
Tuhan, tidak akan berarti apa-apa di hadapan Tuhan (Why. 2:1-5).[25]
BAB IV
KESIMPULAN
Syema ini merupakan pengakuan iman
monoteisme (satu Tuhan) Israel yang paling mendasar. Isinya memberikan
penegasan bahwa Allah secara total berbeda dengan yang lain. Ia menyatakan
diri- Nya kepada Israel dan dapat dipercaya karena Ia tidak berubah. Melalui
syema Israel diajar untuk memilih persekutuan yang intim dengan Tuhan sebagai
prioritas utama. Seluruh aspek kehidupan Israel didasari oleh hubungan cintanya
dengan Tuhan. Di dalam cinta ini terkandung komitmen dan kesetiaan yang menyeluruh
dan total. Syema ini, Pertama, harus
tertanam dalam hati orang Israel (ayat 6). Kedua, harus tertanam dalam hati anak-anak Israel
(ayat 7). Ketiga, harus menjadi bagian hidup
sehari-hari mereka (ayat 7). Keempat, harus menjadi identitas pribadi mereka (ayat 8). Kelima, menjadi identitas keluarga serta masyarakat
Israel (ayat 9). Tidak ada
satu bagian pun dalam kehidupan orang Israel yang terlepas dari relasi mereka
yang penuh kasih kepada Tuhan.
Impilikasinya dalam kehidupan
Kristen adalah, Pertama, Allah orang Kristen adalah Allah yang
hanya mau dikenal dan disembah sebagai Bapa, Putra dan Roh Kudus. Allah memang
esa, tetapi mengenak keesaanNya saja tidaklah menyelamatkan. Seluruh rencana
keselamatan Allah hanya dapat dipahami dan diimani dalam hubungan dengan
keunikan diri Allah, penyingkapan diri-Nya yang progresif, rencana dan cara
kerjaNya. Allah ingin kita mempercayai dan mengimani Dia bukan hanya sebagai
Allah yang esa, yang mengingatkan dan mengajarkan jalan keselamatan dan
kehidupan yang diperkenanNya, tetapi ia menginginkan kita mengenalNya
sebagaimana Dia ada, yaitu Bapa, Putra dan Roh Kudus dengan keunikanNya
masing-masing. Alkitab menegaskan bahwa bahwa Allah tidak mungkin dapat
dikenali diluar dari apa yang Dia sendiri singkapkan (Matius 16:17; Bandingkan
Yohanes 14:6; 15:16). Kedua, iman
kepada Allah Trinitas adalah salah satu keunikan iman Kristen yang
membedakannya dari iman semua agama-agama lain. Tanpa pengenalan akan
Ketrinitasan Allah, perbedaan antara iman Kristen dengan iman agama-agama lain
akan menjadi kabur. Demi membangun jembatan komunikasi dan semangat kesatuan
serta toleransi, kita tidak boleh mengorbankan ajaran esensial Allah Trinitas
ini hanya supaya kita bisa diterima oleh pemeluk kepercayaan agama-agama
lainnya. Alkitab menegaskan bahwa diluar kepercayaan kepada Allah Trinitas
tidak ada keselamatan (1 Yohanes 4:2-3).
Ketiga, pengenalan tentang
Allah Trinitas bukanlah pengenalan rasional tetapi pengenalan iman yang lahir
kebenaran Alkitab. Penalaran manusia tidak dapat memahami Trinitas dengan
tuntas, demikian pula logika tidak dapat menjelaskannya dengan tuntas. Tetapi
karena Alkitab menyatakannya maka kita menerimanya.
Memang trinitas ini tidak bisa diterima dengan akal
tetapi hanya dengan iman kepada Tuhan. Ketiga pribadi itu tidak boleh disahkan
satu dengan yang lain, karena ketiga pribadi tu adalah satu (mono) yaitu Tuhan.
Apa yang telah diajarkan dalam Alkitab mengenai kebenaran tentang Tuhan hendaklah
itu kita responi dalam kehidupan kita dan menyatakan juga kepada semua orang. Dimana kita telah
mencintai kebenaran dan mengasihi Tuhan disitulah kita menerima kasih karunia
yang datang dari Tuhan untuk mengenal Tuhan secara pribadi. Didalam pribadi
Tuhan ada keselamatan kita yang telah dinyatakan dalam satu nama yaitu dalam
nama Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadi kita.
[1]Tony Evans, Teologi Allah (Malang: Gandum Mas, 1999) 19.
[2]Herbert Wolf, Pengenalan Pentateukh (Malang: Gandum
Mas, 1998) 297.
[3]Andrew E. Hill, Survei Perjanjian Lama (Malang: Gandun
Mas, 1998) 239.
[4]Tony Evans, Teologi Allah, 23.
[5]Richard Baucham, Teologi Mesianis (Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 1993) 113.
[6]Henk ten Napel, Kamus Teologi Inggris-Indonesia
(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1989) 126.
[7]Richard Baucham, Teologi MesianiS. 114.
[8]Luis Berkhof, Teologi Sistematika, Doktrin Allah
(Surabaya: Lembaga Reformed Ijili Indonesia, 1993) 143.
[9]Ibid. 59-61.
[10]Ichwei G. Indra, Teologi Sistematika (Bandung: Lembaga
Literatur Baptis, 1999) 71.
[11]Ibid. 73.
[12]Charles C. Ryrie, Teologi Dasar (Yogyakarta: Yayasan ANDI,
1991) 70-71.
[13]Witness Lee, Wahyu dan Pergerakan Allah Tritunggal (Jakarta: Yayasan
Perpustakaan Injil, 1995) 15.
[14]Millard J. Erickson, Teologi Kristen, Vol I (Malang: Gndum
Mas,1999) 419-420.
[15]W. R. F. Browning, Kamus Alkitab (Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 2007) 429.
[16]Herbert Wolf, Pengenalan Pentateukh, 297-299.
[17]I. J. Cairns, Tafsiran Kitab Ulangan, Pasal 1-11
(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1986) 132-133.
[18]Dianne Bergant, Tafsir Alkitab Perjanjian Lama
(Yogyakarta: Kanisius, 2002) 205.
[19]Charles F. Pfeiffer, Tafsiran Alkitab Wicliffe (Malang:
Gandum Mas, 2004) 452-453.
[20]Stephen Tong, Allah Tritunggal (Jakarta: Lembaga
Refoemed Injili Indonesia, 1993) 29.
[21]Tony Evans, Teologi Allah. 68.
[22]Harun Hadiwijono, Iman Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia,
1980) 73.
[23]Ibid. 382.
[24]Donal C. Stamps, Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan (Malang:
Gandum Mas, 1994) 286.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar